Mencari Pramoedya

 

Tetralogi Pulau Buru di Toko Buku Vera, Palasari. (Kanal Perspektif/Alden Abdurrasyid)

Pada 2025, Indonesia merayakan satu abad kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Sosok sastrawan yang karyanya tak lekang oleh waktu ini tetap menggema di antara rak-rak buku di Palasari, Bandung. Di pasar buku ini, jejak Pram masih bisa ditelusuri, meski kadang harus dengan sedikit usaha. Buku-bukunya yang dahulu dilarang kini bebas dijajakan, mengundang pencinta sastra, mahasiswa, dan kolektor untuk terus memburu warisan sang maestro.

Di Antara Rak dan Ingatan

Pak Aceng, seorang pedagang buku di Toko Buku Vera, Palasari, mengamati geliat para pencari buku Pram dengan penuh antusiasme. “Sering banget sih, dari satu hari itu pasti ada yang nanya buku Pram,” ujarnya. “Kalau sebelumnya kan (orde baru) nggak boleh, jadi belum ada yang berani nanya. Tapi sekarang, asyik semua, buku-buku yang tadinya nggak boleh terbit sekarang udah bebas.”

Buku-buku Pram yang paling laris di Palasari adalah Tetralogi Buru—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Namun, ada juga pencari buku langka seperti Menggelinding 1 dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. “Kalau untuk buku Pram, karena sudah nggak ada standar harganya dan jatuhnya buku langka juga, yang nyari itu biasanya berani ngasih harga tinggi. Mungkin karena mereka memang ngefans banget sama Pram,” kata Pak Aceng sambil tersenyum.

Pak Aceng juga menuturkan bagaimana penjualan buku Pram cukup stabil. “Kalau misalnya ada yang pernah ngobrol gini, kalau kita punya buku-buku gini (buku-buku Pram) biasanya mah ya alhamdulillah deh seneng lah istilahnya, terus kita bisa jual lah tiap hari karena ini dalam seminggu aja laku, sehari itu pasti ada yang nanya kalau buku-buku best seller gini. Mungkin (juga) karena anak-anak sekarang baca lintasan (buku-buku Pram) di media sosial atau mungkin, otobiografinya yang sangat menggugah.”

Menurutnya, minat terhadap buku Pram datang dari berbagai kalangan. “Dari pengunjungnya sendiri itu bervariatif minatnya terhadap buku-bukunya Pram.” Ketika ditanya apakah buku-buku Pram masih relevan, ia menjawab, “Sebetulnya mah. Kalau diterapkan di era sekarang mungkin ada satu, di satu sisi orang hanya ingin tahu sejarahnya bagaimana, yang keduanya mungkin ya apa salahnya gitu. Kalau ini juga pahamnya mungkin istilahnya ya yang baiknya kita ambil aja.”

Pak Aceng, sang penjaga ingatan dari Palasari. (Kanal Perspektif/Alden Abdurrasyid)

Pak Aceng juga menambahkan bahwa judul buku Pram yang paling langka adalah Menggelinding 1 dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Kedua buku ini banyak dicari oleh kolektor yang ingin memiliki karya-karya langka dari sastrawan besar tersebut. “Karena ini memang tokoh yang sangat luar biasa juga. Kalau Bapak lihat-lihat ini memang, kalau dari sejarahnya kan, ini sangat luar biasa, meskipun dia banyak rintangan di era itu kan, di waktu jamannya penjajahan tapi dia masih bisa berkarya, dalam penjara pun dia bisa masih bisa berkarya.”

Selain itu, ia juga menyoroti perubahan zaman yang berdampak pada ketertarikan anak muda terhadap buku Pram. “Sebetulnya sekarang orang-orang yang baca Pram itu mungkin banyak yang baru kenal dari sosial media, lihat kutipan-kutipannya dulu, terus penasaran sama kisah hidupnya. Nah, dari situ mereka akhirnya nyari bukunya. Memang beda sama dulu, kalau dulu orang-orang baca karena memang tahu Pram sebagai penulis hebat yang pernah ditindas. Sekarang sih udah mulai banyak yang tertarik lagi.”

Lebih dari Sekadar Buku

Pramoedya Ananta Toer adalah simbol dari ketahanan dan keteguhan seorang penulis dalam menghadapi represi. Meski hidup dalam pengasingan, ia tetap menulis. Meski dibungkam, karyanya tetap bersuara. Kini, seratus tahun setelah kelahirannya, Pram tidak hanya ditemukan dalam buku-buku tua di Palasari, tetapi juga dalam pemikiran dan kesadaran generasi muda.

Pak Aceng menutup percakapan dengan sebuah refleksi, “Kalau kita punya buku-buku Pram, itu ya Alhamdulillah, senang lah. Dalam seminggu pasti ada yang laku. Mungkin karena anak-anak sekarang baca lintasan tentang dia di media sosial, atau karena otobiografinya yang sangat menggugah.”

Di pasar buku Palasari, di rak-rak yang penuh dengan debu sejarah, Pram masih hidup. Masih dicari. Masih diperbincangkan. Sebab seorang Pramoedya tidak sekadar meninggalkan kata-kata—ia meninggalkan nyala yang tak pernah padam.


Dukung tulisan ini agar terus hadir dengan berdonasi disini:

https://saweria.co/kanalperspektif


Post a Comment

0 Comments